Duel Otak dan Strategi Bocah-bocah Bandung di Atas Papan Catur

Bandung Barat – Di atas papan hitam putih berukuran tak lebih dari meja belajar, pertempuran sunyi itu berlangsung. Bukan teriakan, bukan pula sorak keras yang mendominasi, melainkan tatapan tajam, jemari kecil yang gemetar menahan tegang, serta pikiran-pikiran muda yang bekerja tanpa henti.
Catur yang selama ini kerap diasosiasikan sebagai olahraga otak kaum dewasa, kini menemukan rumah barunya di kalangan anak-anak. Bocah-bocah usia sekolah dasar hingga remaja SMA mulai jatuh hati pada permainan papan yang menuntut strategi, kesabaran, dan kecermatan tingkat tinggi itu.

Di saat banyak anak tenggelam dalam layar gawai, sebagian lainnya justru tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mereka duduk berhadapan, menyusun rencana, memprediksi langkah lawan, dan memikirkan konsekuensi dari setiap bidak yang disentuh.

Satu pion melangkah. Satu kuda melompat. Satu kesalahan kecil bisa berarti akhir dari permainan.

Begitulah mereka belajar dan memahami bahwa kemenangan bukan soal keberuntungan, melainkan hasil dari kesabaran dan ketelitian.

Atmosfer itulah yang terasa dalam gelaran Chess Dungeon’s Cup for Junior 2026, turnamen catur yang digelar di Dungeon Boardgame Cafe, Bandung Barat. Suasana ruangan dipenuhi konsentrasi. Anak-anak dari berbagai sekolah duduk saling berhadapan, membawa nama sekolah sekaligus kebanggaan masing-masing.

“Jadi kita menyelenggarakan Chess Dungeon’s Cup for Junior 2026, sebagai turnamen kedua di Dungeon Boardgame Cafe. Kita memfasilitasi anak-anak yang mulai menyukai boardgame, dan catur itu salah satunya,” kata pengarah Dungeon Boardgame Cafe & Main Mind Game Studio and Education, Melvin Goenawan, Minggu (/3/2026).

Turnamen ini bukan sekadar kompetisi biasa. Sejumlah sekolah ambil bagian, mengirimkan perwakilan terbaiknya. Ajang ini pun mendapat dukungan penuh dari asosiasi olahraga permainan papan seperti SORTI dan APIBGI.

“Untuk acara yang kedua ini, turnamen mempertandingkan cabang olahraga catur yang dihadiri oleh siswa siswi sekolah dasar, usia 7 sampai 17 tahun. Jadi mereka ini mewakili sekolah mereka, ada adu kebanggaan juga,” katanya.

Namun di balik papan dan jam catur yang terus berdetak, Melvin menegaskan bahwa Dungeon’s Cup bukan sekadar tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu, ini adalah ruang pembelajaran karakter.

“Apresiasi terhadap usaha anak-anak harus diberikan, jadi bukan sekadar hasil akhir mana yang menang atau kalah,” katanya.

Di sinilah nilai boardgame terasa kuat. Para peserta harus bertatap muka, membaca ekspresi lawan, mengendalikan emosi, dan berkomunikasi secara langsung. Interaksi nyata yang kini mulai jarang ditemui di era serba digital.

“Pesertanya harus bertatap muka, berbeda ketika bermain permainan yang sama di gawai. Makanya kita juga ingin melalui boardgame ini bisa memberikan manfaat buat perkembangan sensorik dan sosial anak,” kata Melvin.

Dungeon’s boardgame sendiri bukan sekadar permainan namun menjadi ruang imajinasi. Konsep dungeon yang kerap hadir dalam buku dan film diterjemahkan menjadi pengalaman nyata, tempat strategi, fantasi, dan logika berpadu.

“Seperti halnya bermain boardgame atau trading card game, dimana permainan bisa tercipta apabila peserta dapat bermain dalam sebuah platform pemikiran atau imajinasi yang sama,” kata Melvin.

Mainmind

Studio and Education

Jl. Cihampelas No.64 B
Jawa Barat Indonesia

Follow Main Mind

Ingin bertanya atau berdiskusi langsung, silahkan kontak kami atau kunjungi Studio Mainmind

Studio Mainmind buka dari jam 09.00–16.00 WIB (Hari Minggu tutup, kecuali ada acara)

Contact
   0898 8896 677
   mainmindstudio@gmail.com

Our Partner