Generasi Z dan Alpha, yang dikenal sebagai “digital native”, tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi teknologi, termasuk smartphone dan media sosial.
Kendati gawai atau gadget memiliki kelebihan, kecanduan dapat menyebabkan dampak negatif seperti isolasi sosial dan masalah emosional pada anak-anak.
“Semua orangtua mengeluhkan ketika anaknya kecanduan gadget, harus diapain? Sekolah juga kebingungan. Solusinya memang gadget harus dibatasi, tapi itu kan tak cukup. Nah kita berikan alternatifnya, ya board game,” ungkap Hendro Prayitno, Pelaksana Kurikulum Main Mind Education, saat ditemui di SDK 2 Bina Bakti, Jalan Bima Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (23/1/2025).
Menurut Hendro, riset menunjukkan bahwa board game memiliki banyak manfaat karena dirancang untuk dimainkan bersama, sehingga anak-anak terdorong untuk bersosialisasi.
“Artinya board game juga mendorong orang-orang untuk berkumpul. Artinya mengumpulkan teman sebaya itu jadi dorongan supaya anak-anak bersosialisasi,” jelasnya.
Di negara lain, industri board game telah berkembang pesat, dengan desainer yang bekerja sama dengan film-film terkenal seperti Star Wars.
Namun, di Indonesia, harga board game yang tinggi menjadi kendala penetrasi ke masyarakat.
“Mungkin di negara lain sih tidak ada masalah, tapi ketika masuk ke Indonesia dengan pajak dan seterusnya memang jadi mahal,” ujarnya.
Main Mind berupaya memperkenalkan board game modern dalam bentuk permainan kartu kepada anak-anak untuk mengurangi kecanduan gadget.
Hendro menyebut bahwa board game kini menjadi tren baru bagi anak-anak.
“Kalau versi generasi lama kita melihat sebagai ludo, ular tangga, monopoli, dan seterusnya, itu kita sebutnya boardgame klasik,” ucapnya.
Dalam kegiatan ekstrakurikuler, Main Mind mengajarkan nilai-nilai life skill seperti self-awareness, thinking skill, dan self-improvement melalui board game modern.
“Di board game itu kurang lebih sebetulnya mengandung tiga hal tersebut, selebihnya kami kurasi lebih perinci, sehingga board game-nya betul-betul muatan life skill-nya tinggi,” kata Hendro.
Setiap pertemuan dalam ekstrakurikuler, Main Mind menyampaikan topik tertentu yang diwakili oleh board game.
“Intinya spirit-nya bermain, tapi di baliknya pembelajaran, seperti menahan emosi, berstrategi, memahami teman, dan menyelesaikan sebuah masalah,” tuturnya.
Di SDK 2 Bina Bakti, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk memainkan board game yang berbeda.
Salah satu kelompok memainkan board game dengan tema lingkungan, di mana mereka belajar mendaur ulang barang tak terpakai.
“Pertandingan itu luar biasa menarik, dibungkus dengan perancangan visual yang juga memang sangat profesional,” ujar Hendro.
Ia menambahkan bahwa board game menawarkan pengalaman sosial yang tidak dapat diberikan oleh permainan digital.
“Kalau disini tuh (board game) betul-betul bahagia ekspresinya, kelihatan ya, anak-anak tuh dengan ekspresi bisa teriak-teriak,” pungkasnya.
Main Mind menilai bahwa life skills dapat dipelajari dengan lebih mudah melalui board game, yang mengharuskan kehadiran manusia secara utuh.
Sumber: Kompas Bandung
https://bandung.kompas.com/read/2025/01/23/191818778/mengatasi-kecanduan-gadget-dengan-board-game-modern?page=all.
Mainmind
Studio and Education
Jl. Cihampelas No.64 B
Jawa Barat Indonesia
Follow Main Mind
Ingin bertanya atau berdiskusi langsung, silahkan kontak kami atau kunjungi Studio Mainmind
Studio Mainmind buka dari jam 09.00–16.00 WIB (Hari Minggu tutup, kecuali ada acara)
Contact
0898 8896 677
mainmindstudio@gmail.com

